Busyet, harga parkir naik berlipet2 ganda.
May 6, 2008 by Richard
Lagi2 pemerintah daerah Jakarta memunculkan keputusan cepat, tanpa pikir terlalu panjang.
Kalo temen2 baca koran, ada issue baru bahwa harga parkiran di beberapa daerah di Jakarta akan dinaikkan beberapa kali lipat. Pas baca berita ini, saya ampir tersedak, sesek napas, trus ampir mati di tempat.
Bukannya saya pelit (sedikit sih..), tapi saya sudah merasa parkiran di Jakarta mahal. Bayangkan parkir 3 menit untuk narik uang di ATM, bayar Rp.1000. Parkir 10 menit untuk beli bakmi, bayar Rp.1000. Kalo di mal2, ada yang sampe tarifnya Rp. 3000 per jam. Itu aja gedung2 parkir udah untung, masa iya mo bikin kita yang rakyat susah, makin miskin bayar parkir.
Ceritanya sih, pemerintah DKI pengin para pemilik kendaraan pribadi naik kendaraan umum. Makanya berbagai cara dipake dan dihalalkan. Misalkan, disediakan busway dan haltenya (oke ini yang positifnya), dinaikkan harga bensin (sebentar lagi) buat kendaraan pribadi, dinaikkan tarif parkir, dinaikkan (ramalan saya) pajak kendaraan bermotor buat pemilik pribadi, bahkan akan menaikkan tarif tol.. dll.
Buset deh!!!
Saya pribadi sih bukannya anti naik kendaraan umum. Seperti yang di posting2 sebelumnya, pernah saya bahas, yang penting bukan saja sarana kendaraan umumnya yang harus tersedia, tetapi juga prasarana.
Artinya, oke ada busway + transjakarta. Tapi apakah saya bisa naik busway sampe rumah. Kan engga, dari halte busway terdekat, ke rumah, kudu ada lagi kendaraan umum.
Oke, ada angkot, apakah angkot senyaman transjakarta? Tentu tidak. Bagaimana dengan kenyamanan? Apalagi.. tentu tidak asik, bo! Bagaimana dengan keamanan? Tentu tidak ada yang jamin juga. Hayo, siapa yang berani bawa2 laptop naik bus? Ada aja sih.. tapi sejak saya denger beberapa temen saya dipalak laptopnya, ato dijambret, ato ditodong. Weess.. saya ga akan mau naik bus dengan laptop. Tuh laptop akan saya bungkus koran, pake kantong kresek, seperti bawa ikan asin. Biar nyaru.
Dari halte transjakarta terdekat sekitar 3 kilometer ke rumah, mungkin akan cape kalo jalan kaki. Bisa aja naik sepeda sampe halte. Saya senang naik sepeda. Tapi nanti sepedanya taro mana? Sepeda kan ga bisa diiket ke tiang listrik begitu aja. Entar sama tiang2 listriknya digondol maling.
Tentu bagi mereka, dan saya, yang cukup beruntung mempunyai kendaraan pribadi, masih merasa tidak rela meninggalkan kendaraan pribadi dan menggunakan kendaraan umum. (dengan fasilitas2 yang masih terbatas)
Menaikkan tarif (apapun itu), tanpa ada kompensasi yang jelas -> memperbaiki fasilitas, sarana dan prasarana, hanyalah akan mempersulit rakyat. Ckckck.. masa sih ga pernah belajar? Kalo perlu research, saya dan tim di kantor bersedia kok riset ttg hal ini. (Asal dibayar, dan tidak ditunda pembayarannya)
Inilah salah 1 suara hati rakyat… Wahai pejabat pemerintah, dengarlah suara hati rakyat2mu.. Memang kalian mampu bayar parkir, memang kalian jg mampu bayar bensin.. Tapi bagaimana dengan kami, rakyat2 yg gajinya pas2an…. Mbok dipikir sek plus minuse, sblm buat keputusan.. ^^
Ya Tuhan, dengarkanlah doa anak-anak Mu ini…aminn..
Pertanyaannya mudah “Tarif yg dinaikin itu, duit-duitnya pada kemana semua yach?”… jawabannya yg “susah” dijawab.
Aku nambahin aja, Sir. Jangan lupa jalanan protocol yang berlubang2. dan trotoar yang cuma besarnya 1/2 meter dan amburadul. pemerintah ngarepin kita jalan kaki dan bersepeda?…. lalalala…lalalala…..*siul siul*
Ayooo naik sepeda rame2.. biar bensin turun…
*cape ga ya..?
Cape lahh..jelassssssss…huehehehehe..:p
Tergantung dr mana kemananya dl donk.. Klo dr rmh eke ke inti sih.. Ga cape.. TAPI kalo dr rmh kalian.. heiuehieuhe.. No comment.. hihihi.. Solusi : pindah rumah yg deket ama tmpt kerja… hihihi..